![]() |
IMAM BUKHORI
A.
Biografi Imam Buhori
Imam Bukhori adalah seorang ahli hadist. Ia
lahir pada hari jumat 13 Syawwal 809M / 194H di Bukhara. Ia mempunyai nama asli,yaitu Abu Abdullah Muhammad bin
Ismail bin Ibrahim bin Mughirah bin Bardizbah Al-Ju’fi Al-Bukhari. Bapaknya
bernama Ismail,beliau adalah seorang ulama hadist yang mempelajari materinya
dibawah bimbingan sejumlah tokoh
ulama termasyur,seperti Malik bin Anas,Hammad
bin Zayd dan Ibnu Mubarak. Beliau meninggal ketika usia Imam Bukhori masih
remaja. Kemudian semua kekayaannya jatuh pada Imam Bukhori. Pada suatu hari ia
meminjamkan kekayaannya kepada beberapa orang,sahabatnya. Ada seorang
sahabatnya yang berhutang uang sebanyak 25.000 dirham,namun ternyata sahabatnya
tersebut tidak bersedia untuk melunasi hutangnya,kemudian sahabat yang lainnya
memberi solusi agar imam bukhori melaporkannya kepada gubernur agar ia mendapat
ganti rugi uang tersebut,tetapi beliau imam bukhori menolaknya,karena ia
berfikir bahwa pemerintah pasti akan meminta imbalan jasa dari bantuan
tersebut. Imam bukhori mempunyai ibu yang sangat menyayanginya dan seorang
kakak lelaki yang bernama Ahmad
Imam Bukhori mulai belajar hadist sejak
beliau masih remaja,berumur sekitar 10 tahun. Sebelum mencapai usia 16
tahun,Imam Bukhori telah berhasil menghafalkan beberapa buah buku tokoh ulama
pertama yang prominen,seperti Ibnu Al-Mubarak,Waki’,dll. Beliau tidak hanya
menghafalkan matan hadist dan buku ulama terdahulu,tetapi juga mengenal dan
sangat mengetahui biografi para perawi yang mengambil bagian dan penukilan
sejumlah hadist,data tanggal lahir, meninggal, tempat lahir, dsb. Dalam
menyelidiki hadist nabi, Imam Bukhori berkelana menuju ke Bagdad, Basrah, Kufah,
Mekkah, Madinah, Syam, Homs, Askalan, Naisabur dan Mesir. Beliau juga menetap di
Hijaz selama enam tahun untuk mempelajari hadist,dan mengembara ke Bagdad
sebanyak 8x. pada waktu perjalanannya menemui Adam bin Abu ‘Ayasy,beliau
kehabisan uang. Untuk beberapa waktu beliau hidup dengan kemiskinan di bawah
naungan daun pepohonan yang rindang. Imam Bukhori adalah seorang yang pandai
membidik sasaran dan selalu terbiasa dan siap untuk selalu berjihad di jalan
ALLAH SWT,untuk selamanya,seorang yang saleh banyak bribadat dan ahli
pengetahuan.
Imam Bukhori telah menemui guru-guru yang
telah membantunya dalam berbagai ilmu,sehingga kemudian ia bergelar sebagai
Amirul Mu’minin dalam hadist,sedangkan Imam Muslim menyebutnya sebagai Doktor
ahli hadist dan kepala ahli hadist. Ia berhasil membedakan antara hadist yang
sahih dengan yang tidak sahih walaupun di balik sanadnya dan matannya karena
keahliannya.
Ketika
pulang ke negerinya,Imam Bukhori di fitnah orang tentang keagamaannya,sehingga
wali negeri Bukhara mengusirnya dari negeri itu,dan ia wafat pada hari sabtu
malam hari raya Idul Fitri tahun 869M / 256H. Ia wafat pada umur 62 tahun tanpa
meninggalkan seorang anak dan istri,kemudian ia dikuburkan di Khartanak dekat
Samarkand. Ketika beliau di kebumikan,terciumlah bau harum semerbak dari tanah
kuburnya seharum minyak kasturi dan keadaan seperti itu berlanjut sampai
beberapa hari,sehingga peristiwa tersebut Mutawatir brita yang(kuat) bagi
segenap penduduk negeri
B.
Karya-karya Imam Bukhori
Imam Bukhori telah berhasil mengarang
sejumlah buku,tetapi banyak diantara buku-buku tersebut rusak atau hilang dimakan
perjalanan waktu. Salah satu karya tulisnya yang bernama “Aijamiush Shahih”,telah
menyita waktunya selama 16 tahun dan setiap kali akan menulis hadist-hadist,ia
selalu bershalat dua rakaat dan beristikharah kepada ALLAH SWT. Beliau telah
menyusun kerangka buku ini pada saat ia berada di makkah di dalam masjid
Al-Haram,kemudian ia meneruskan sampai selesai atau menyelesaikannya di masjid
Al-Nabawi,Madinah. Buku tersebut merupakan buku hadist yang paling sahih
diantara buku-buku hadist, paling shahih sesudah Qur’an dan para Imam ahli
hadist mengakuinya untuk di terima umat islam. Hadist shahih Bukhori telah
diterima oleh ulama salaf dan kalaf,yang sebelumnya tidak pernah muncul sebuah
buku hadist yang bisa melepaskan diri dari hadist-hadist yang tidak shahih.
Selain buku tersebut,Imam Bukhori menulis sebanyak kurang lebih 20 buku yang
antara lain ialah “Attarikhul Kabir” (sejarah besar). Berikut adalah beberapa
buku karya Imam Bukhori,antara lain :
1. Qadhaya Al-Shahabah wa Al-Tabi’in. buku ini
dikarang pada saat beliau berusia 18 tahun
2. Raf’ Al-Yadayn
3. Qira’at Khalf al-Imam
4. Khalq Af’al Al-‘Ibad
5. Al-Tafsir Al-Kabir
6. Al-Musnad Al-Kabir
7. Tarikh shaghir
8. Tarikh Awsath
9. Tarikh Kabir
10. Al-Adab Al-Mufrad
11. Birr Al-Walidayn
12. Al-Dhu’afa
13. Al-Jami’ Al-Kabir
14. Al-Asyribah
15. Al-Hibah
16. Asami’ Al-Sahabah
17. Al-Wuhdan
18. Al- Mabsuth
19. Al-‘Ilal
20. Al-Kuna
21. Al- Fawa’id
22. Shahih Al-Bukhori
Imam Bukhori seringkali memotong bagian
hadist dan menempatkannya sebagai topik judul, dan beliau juga berulangkali
mengulang-ulang sejumlah hadist yang sudah dimuat pada bagian terdahulu.
Hadist-hadist yang dimuat dalam Shahih Bukhori berjumlah 7000-an.
Adapun syarat yang harus ada untuk Hadist Shahih yaitu :
1. Perawi harus memenuhi tingkat criteria yang
paling tinggi dalam hal watak pribadi, keilmuan,dan standar akademis.
2. Harus ada informasi positif tentang para
perawi yang menerangkan bahwa mereka saling bertemu muka dan para murid belajar
langsung dari Shahih Hadist-nya
C.
Metode Imam
Bukhori dalam Mengumpulkan Hadist ke dalam Kitab-nya dan Penyebarannya
Imam
Bukhori menyaratkan hadist shahihnya dengan cara memasukan ke dalam
laboratorium Musthalah,antara lain :
1. Ittishalus Sanad,yaitu sebuah hadist dapat di
masukkan dalam definisi shahih,jika sanadnya bersambung
2. Adalatur Riwayah,yaitu perawinya harus
seorang muslim, mukallaf, yang selamat dari kefasikan atau dosa besar
3. Tamamut Dhabth, yaitu super kuat dalam
menjaga hafalan dan perawatan naskah. Dalam Tamamud dhabth dibagi menjadi 2
bagian, yaitu Dhabthu Shadr dan Dhabthu Kitab,
4. Khuluwwun Mis Syudzudz, yaitu perawinya tidak
bertolak belakang dan bertentangan dengan perawi hadis lainnya.
5. Khuluwwun Min’illahi, yaitu hadis shahih
harus selamat dari 'illah
6. Samaa’i, yaitu setiap perawi harus mendengar
langsung dari gurunya tentang hadis yang ia riwayatkan.
Dalam mengkritik para ulama terdahulu
untuk mengevaluasi keberadaan mereka, Imam Bukhori sangat sopan, moderat dan menggunakan
bahasa yang halus. Beliau sangat ramah kepada murid-muridnya. Dalam
meriwayatkan hadist, beliau terbiasa bangun di tengah malam, hal ini beliau lakukan
berulang kali kemudian menyalakan lampu penerang dengan percikan bunga api dari
gesekan 2 batu, kemudian beliau memberikan catatan-catatan khusus pada hadist,
lalu meneruskan tidurnya. Beliau tidak mau meminta bantuan kepada orang lain
karena tidak mau mengganggu aktivitasnya. Ketika Imam Bukhori tiba di Baghdad,
para ulama berdesak-desakan untuk menguji kekuatan daya hafalan beliau yang termahsyur.
Mereka menunjuk 10 orang ulama untuk menguji hal tersebut. Setiap ulama
membacakan 10 hadis. Semua ulama tersebut mengganti isnad dari hadist yang
dibacakan dan menempatkannya secara acak pada matan yang berbeda. Setelah semua
hadist dibacakan satu per satu, isi hadist tersebut ditanyakan pada Imam
Bukhori, apakah beliau mengetahui atau tidak, dengan spontan ia menjawab bahwa
ia pernah mendengar hadist tersebut.
Sumber :
Hamidy, Zainuddin,dkk. 1950. Terjemah Hadis Shahih Buchari. Jakarta:
Widjaya.
Bahreisy, Hussein. 1980. Himpunan Hadist Pilihan Hadist Shahih
Bukhari. Surabaya: Al-Ikhlas.
Mustafa, Muhammad. 1977. Metodologi Kritik Hadist. Surabaya: Pustaka Hidayah.

.jpg)





0 komentar:
Posting Komentar